.: Selamat datang di Pesantren Persatuan Islam Tarogong. Jl. Terusan Pembangunan No.1 Tarogong Garut Jawa Barat. 44152. Telp/Fax (0262) 234657 :.                                                                                                                                                                             .: MEMBINA INSAN BER AKHLAQ-KARIMAH YANG TAFAQQUH FIDDIN DAN MENGUASAI IPTEK :.
Berita
:: 17 Apr 2009 
  Informasi Haflah Imtihan (HI)
Artikel
:: 20 Jul 2009
  " WACANA VS AKSI "
:: 16 Apr 2009
  Pengembangan Sistem Pendidikan Persis
:: 16 Apr 2009
  Transformasi Nilai-nilai Keteladanan
:: 16 Apr 2009
  Krisis moral Landa Pendidikan Indonesia
Downloads
:: Formulir pendaftaran santri baru
:: anak Islam dan pendidikan pesantren
:: 31 hak anak
:: Materi pelatihan pesantren ramah anak
Tadzkiroh
 
Rosul bersabda : Barangsiapa yang menunjukan pada kebaikan maka baginya akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya
 
 
|
Jumat, 10 September 2010
Pengembangan Sistem Pendidikan Persis
(dikirm pada tgl : 16 Apr 2009)
Oleh : dank_ern

Diambil dari tulisan sudara Tatang Muttaqin  
 

PENDAHULUAN
 Muktamar Persatuan Islam (PERSIS) ke-13 pada 3-5 September 2005 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta telah sukses dilaksanakan dan telah menghasilkan kepengurusan baru yang relatif segar dan menjanjikan. Sebagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, syiar Persatuan Islam (selanjutnya PERSIS) masih relatif sangat terbatas jika dibandingkan dengan Nahdhatul Ulama (NU) atau Muhammadiyah. Namun demikian, kiprah PERSIS dalam dunia pendidikan cukup menggembirakan, khususnya dalam mengembangkan model pesantren yang semi modern sehingga di beberapa daerah Pesantren PERSIS cukup diperhitungkan dan membanggakan, baik dari segi kuantitas santri maupun kualitas lulusan.
 Kenyataan tersebut tak dapat dilepaskan dari semangat juang para penggiat PERSIS di tingkat akar rumput yang terdorong oleh keinginan untuk menyebarluaskan paham “kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah”. Karena hampir semua lembaga pendidikan PERSIS didirikan atas keinginan dan kebutuhan jamaah di tingkat grassroot, maka lembaga pendidikan PERSIS secara relatif menjadi lebih otonom dan mandiri sehingga tidak terjadi dominasi institusi organisasi. Kenyataan tersebut telah memberikan blessing in disguise, di mana setiap pesantren PERSIS dapat membuat pola pengajaran yang lebih kreatif dan inovatif yang pada akhirnya pesantren PERSIS senantiasa diminati stakeholder-nya dan dapat “hidup” tanpa bantuan dari induk organisasi atau pemerintah.
Dengan demikian, secara real lembaga pendidikan PERSIS telah lama menerapkan manajemen berbasis sekolah (school-based management) dan berbasis kebutuhan masyarakat (community-based management) yang saat ini sedang dirintis oleh pemerintah sebagai jawaban terhadap tuntutan desentralisasi pendidikan. Artinya lembaga pendidikan PERSIS telah lebih maju selangkah dibandingkan dengan sistem persekolahan yang diselenggarakan oleh pemerintah.
 
PENGEMBANGAN SISTEM PENDIDIKAN PERSIS
 Tema yang diusung Muktamar PERSIS XIII adalah "Dengan Muktamar Kita Tingkatkan Komitmen Peningkatan Kualitas Dakwah dan Pendidikan Menuju Tegaknya Syari'at Islam". Sesuai dengan bidang ilmu dan pengamalan yang dimiliki, penulis akan memfokuskan pada aspek pendidikan di PERSIS.
 Seperti diakui oleh Ziemek (1988), tinjauan masyarakat kebanyakan terhadap pendidikan pesantren biasanya cenderung menekankan pada aspek akibat (output), di mana lulusan pesantren dipandang secara pragmatis sebagai produk atau konsekuensi dari sistem pendidikannya sehingga yang diukur adalah apakah lulusan pesantren cukup terlatih untuk memasuki sektor yang sedang berkembang. Agak naïf memang, jika pesantren dievalusi atas dasar kriteria yang tidak sesuai dengan watak khas dan fungsi dari pesantren itu sendiri.
Disinilah, penulis merasa sangat kesulitan untuk melakukan semacam tinjauan terhadap Sistem Pendidikan PERSIS karena pola dan indikator yang akan digunakan dalam melakukan assessment tidak akan sama. Oleh sebab itu, dalam melakukan tinjauan ini, penulis akan melakukan semacam penyederhanaan sehingga tanpa ragu harus ber-apologi terhadap keterbatasan ini. Namun demikian, mudah-mudahan tinjauan sederhana ini dapat menjadi stimulan untuk didalami pada dialog nanti.
Secara sederhana, ada dua hal pokok yang dapat diangkat untuk mengkritisi sistem pendidikan, yaitu: aspek pengelolaan dan aspek silabus pembelajaran yang sering dikenal dengan kurikulum. Aspek pengelolaan sedikitnya meliputi: pengelolaan tingkat makro kebijakan, tingkat mikro penyelenggaraan, dan tahap pembelajaran (paedagogik). 
Pada tingkat makro kebijakan, secara umum kebijakan yang ditetapkan oleh Pusat Pimpinan (PP) PERSIS sudah cukup responsif, akomodatif dan fleksibel. Misalnya: orientasi lulusan yang dipetakan menjadi empat kategori: (1) orientasi pendidik, dai dan ustadz; (2) orientasi studi lanjut; (3) orientasi akreditasi lulusan; dan (4) orientasi par of excellence sebagai ulama (tafaqquh fiddien).
 Namun demikian, arah kebijakan tersebut dalam kenyataannya tidak mudah untuk diimplementasikan karena masih terdapat kendala-kendala: psiko-kultural, seperti: anggapan bahwa lulusan Mu’allimien sudah “cukup” handal sehingga terjadi hambatan psiko-kultural bagi calon lulusan untuk bersiap-siap meniti jenjang studi lanjut baik ke perguruan tinggi umum maupun perguruan tinggi agama.
 Di samping kendala psiko-kultural di atas, adalah suatu yang sudah umum terjadi, bahwa orientasi yang banyak (multi-orientation) tidak mudah untuk diraih secara bersama-sama sehingga senantiasa ada yang “dikorbankan”. Barangkali perlu teroboson-terobosan brilian dan kongkret dalam mengatasi masalah ini, meskipun penulis yakin ini akan berpulang pada kemampuan pengelola pada tingkat mikro. Pilihan yang mungkin adalah melakukan pemisahan pada kelas akhir di tingkat Mu’allimien sehingga lebih antisipatif terhadap masa depan peserta didik. Pilihan ini membutuhkan keterbukaan antara peserta didik dengan pesantren dan asatizd-nya, tanpa ruang komunikasi yang “saling percaya” dan “saling membantu” pilihan di atas tidak akan terlalu banyak membantu mengatasi masalah multi-orientasi tersebut.
 Pada tingkat mikro pengelolaan lembaga pendidikan, sebagai lembaga pendidikan semimodern dirasakan banyak kemajuan yang cukup menggembirakan dibandingkan dengan lembaga pendidikan tradisional, namun seringkali pola manajemen modern yang diterapkan mengorbankan nilai-nilai lama yang khas pesantren, yaitu dengan mulai berkurangnya kharisma sang kiai. Kenyataan ini memang akan sulit dihindarkan dan tidak terlalu meresahkan, karena juga berdampak positif dalam menumbuhsuburkan semangat keterbukaan dan egalitarian. Nampaknya perlu dibuat terobosan mekanisme pembagian wewenang dan tanggung jawab antara manajemen (pengelola) dengan peran ke-kiai-an sehingga mampu mensinergikan antara manajemen modern dengan tradisi ke-kiai-an yang secara spiritual dan simbolik masih sangat dibutuhkan.
 Otonomi yang luas dalam pengelolaan lembaga pendidikan pesantren memberikan keleluasaan yang berdampak baik dalam menumbuhkan kreatifitas dan inovasi pengelola, namun tidak dapat dihindarkan otonomi tersebut berakibat buruk pada munculnya budaya “rasa memiliki” yang akhirnya dapat bergeser ke arah “manajemen keluarga”. Hal ini jelas akan berdampak tidak baik dalam mewujudkan pola pengelolaan yang modern berdasarkan merit system, bahkan tidak ada salahnya untuk mulai menerapkan prinsip-prinsip total quality management (TQM) sebagaimana diperkenalkan oleh Rinehart (1993). Di sinilah peran PERSIS sebagai institusi pengayom bisa mengambil peran yang lebih jelas dan signifikan dan untuk dapat melakukan ini diperlukan penanggung jawab pendidikan tingkat pusat yang handal dan teruji sehingga memiliki kewibawaan moral dan institusional.
 Berbeda dengan sistem pesantren salafiah (tradisional) yang menggunakan sistem bandongan dan sorogan, sistem pengajaran (paedagogik) yang digunakan di pesantren PERSIS pada umumnya sama dengan sistem persekolahan umum dengan struktur yang sistematis dan modern. Sistem tersebut jelas mempermudah dalam pencapaian target kuantitatif dan dapat meminimalisir pengulangan yang tidak perlu.
 Sebagaimana sistem pengajaran di sekolah umum, kelemahannya adalah menekankan pada semangat kompetitif melalui sistem ranking sehingga melahirkan peserta didik yang menang (winner) dan peserta didik yang kalah (looser) yang secara psikologis kurang menguntungkan bagi perkembangan mental peserta didik, padahal di negara-negara maju model kompetitif telah lama diganti dengan model kolaboratif (cooperative learning) yang memungkinkan semua peserta didik dengan semangat saling membantu untuk mengembangkan dirinya semaksimal mungkin . 
Di samping itu, yang tak kalah pentingnya adalah rendahnya kualitas komunikasi dialogis yang mampu “menyenangkan” peserta didik sehingga “belajar” menjadi sesuatu yang “menyebalkan”. Hal ini diperparah dengan beban kurikulum yang sering overload dan model pengajaran “hapalan” yang sangat menyesakkan peserta didik pada umumnya. 
Padahal jika dirunut kepada konsepsi-konsepsi pendidikan abad pertengahan, misalnya Ibnu Khaldun yang mengatakan dalam Al-Muqaddimah-nya bahwa salah satu faktor penting yang memberikan sumbangan terhadap kemunduran Islam adalah cara belajar menghapal dan mengulang yang sudah ada, seharusnya kemampuan siswa diarahkan untuk dapat mengembangkan kemampuan untuk mengamati dan berfikir lewat dialog dan diskusi. Oleh karena itu sudah saatnya lembaga pendidikan PERSIS memoles wajah baru, baik sebagai organisasi maupun sebagai lembaga pendidikan yang mampu mencitrakn dirinya lebih “cantik” dan elegan sehingga tidak terkesan “keras” atau “kaku”. Juga harus ada kesepahaman akan perlunya kebebasan dalam arti positif untuk mengkaji dan menyampaikan gagasan baru yang inovatif sehingga mendorong kreatifitas peserta didik. Bahkan untuk membantu menstimulasi keseimbangan kognitif dengan kecerdasan emosional tidak ada salahnya untuk memasukkan seni dan musik dalam tradisi kepesantrenan. 
Selanjutnya, kurikulum dan silabus pembelajaran lembaga pendidikan PERSIS pada umumnya terlalu overload dan tidak memberikan ruang yang memadai untuk melakukan pencerahan dan pembaharuan. Kenyataan ini diperparah dengan adanya kultur konservatisme yang berlebihan dari para pinisepuh PERSIS sehingga tidak begitu at-home bagi kaum muda progresif. Oleh karena itu, ada baiknya melakukan kajian untuk penyederhanaan kurikulum dan penggabungan mata pelajaran serumpun sehingga tidak terlalu membebani kemampuan peserta didik. Jika kurikulum tetap overload seperti saat ini, maka penguasaan peserta didik hanya akan mencapai di bawah 50 persen. Kalau Cuma 50 persen bagaimana peserta didik bisa melakukan pengembangan dan semacam intellectual exercise?.
Hal penting lain yang perlu dikaji ulang adalah lama waktu pendidikan yang terlalu panjang sehingga menimbulkan rendahnya efisiensi internal pendidikan PERSIS. Oleh karena itu, perubahan lama pendidikan di beberapa pesantren patut dicermati, kalau hasilnya tidak jauh berbeda maka pilihan memendekkan lama pendidikan dari tujuh tahun (Tazhijiyah, Tsanawiyah, dan Mu’allimien) menjadi enam tahun (Tsanawiyah dan Mu’allimien) sebagaimana umumnya sistem persekolahan merupakan pilihan yang tepat untuk meningkatkan efisiensi internal pendidikan PERSIS. Wallahu’alam Bisshawwab.



 


 
Last 10 alumni
:: rafiq
:: SMH
:: qobil
:: rahman
:: sls.ynr
:: Sanca
:: budiman
:: dadan heti
:: ad_Dikr2
:: Zakaria
Galery
Konsultasi ZIS
::
Members Online
:: 08221019
:: 13ve_weasley
:: 9n12
:: @choel 86
:: AA
:: abb_77@Telkom.Net
:: Abdul
:: abi syakuro
:: abie_veeth3
:: Abu 'Azzam
:: abu al-jihaad
:: abu nadzira
:: abu usamah
:: achmad
:: aden pj
:: Adnan
:: ad_Dikr2
:: AFIF
:: afrita
:: agah
:: Agus_Herta
:: ahlami
:: ai_moeslima@yahoo.co
:: akmal
:: akubenazir
:: al-Ayyuby
:: Al-Maroghi_Mukti
:: alfian
:: alif
:: Alil
:: al_fantary
:: amelia jj
:: andri nurdiansyah
:: anjar
:: Anna_Stoner
:: apip
:: arie_koelit
:: ArifRastaNoe
:: aris_nik
:: asyri
:: awo
:: ayahnyazawwad
:: azsoulva
:: baraya_dekavee95@yah
:: Benny
:: be_ismail
:: Bunda Vira
:: cep ulin
:: chaw_chiel
:: Chev Drew
:: Chiewiel
:: Dadang SB
:: daris_90
:: Delpiero
:: denhas
:: denhas (beben)
:: deni_kaiya
:: deologi_84
:: dhillie_khzn
:: Dian
:: DIEARTD
:: diens_day07
:: diens_link
:: dinda_gituch
:: dpngr
:: drow
:: Dudi
:: dudin
:: ehm 'nje
:: eLa
:: enfahmi
:: engkom
:: ENUNG
:: erigarut
:: esa
:: F 415 AL
:: F3nNy_up
:: fachroenz
:: Faisal_Awo76
:: faizal
:: FANKANO
:: faras
:: faruqi03
:: fatur
:: Ferry Rustandi
:: Fhian
:: fie
:: Fien's
:: fiens
:: FuzYa sYarunnie putr
:: fz_utie
:: gee_2
:: geisha_fiez
:: gete lopez
:: gojling
:: goodname
:: gun2ab
:: gymiah
:: G_m4n
:: Hafidh
:: hakim
:: hamzah_amir
:: hanif
:: hanifah
:: harjo
:: Hayat
:: hayz_muzh
:: Hera
:: Heri Efendi
:: Hieck or H3m2
:: icad
:: idho_dho06
:: idul
:: ihsan
:: ikh_one
:: inas
:: Indra
:: Indri_yani
:: ipul
:: irhamsidiq
:: irma
:: ishan_kaseph
:: Jamal
:: jamaludin_1702
:: Jang Ukun
:: jangmanan@gmail.com
:: jati
:: jatnikabs
:: jaunk
:: jimmyh
:: JOXZIN
:: kandilludin
:: karima IX.6
:: kenny tea
:: ken_achonk
:: Khadafi_INDONESIA
:: kiki
:: kikuk
:: kim76
:: King Q Laban
:: Komar
:: komar1987
:: Labib76
:: Larasati 'Pohand
:: latif
:: latif_87
:: Leled Samak
:: lia
:: Lutfi
:: m.mutakin
:: mail
:: malik_ibrapgr
:: mang_otonk
:: miayogya
:: midah
:: Moeslim_nurjaman
:: mubin
:: MUFLIH
:: muftidev
:: muhamad lea
:: mumtaza annisa
:: munajat
:: muslim
:: mutia
:: namakufenty@yahoo.co
:: nana beg
:: Nashir Cairo
:: nenengmulyani
:: nENx_rUNNy
:: nha
:: Nicko_182
:: noey
:: Nok2-chan
:: Noki@256
:: nurdin
:: nurjannah
:: Nurlina
:: nurrohman
:: ogay_kasep
:: oi akhwat
:: ole_tea
:: otsumi
:: oVie_mNiEz
:: pahreisy76
:: pendekar kenko
:: perdi
:: pi2t_fithria'09
:: Poeh_fathur
:: princess_august89
:: priyo
:: qobil
:: Qq
:: qurochan
:: r nurimanr
:: rayzt86
:: rehaikal
:: reni
:: rifamuha
:: RINA
:: Rita
:: Rizqi_La'89
:: saeful
:: Sanca
:: sandi_apriandi
:: sandra
:: sans_dhani
:: sarzivacas@yahoo.com
:: Se!R@
:: selma
:: setiadji
:: shahra
:: shanszener
:: sh_syarief
:: Siti masturoh
:: Sitnur
:: sls.ynr
:: smile_mphi
:: sovie_94
:: suharsono
:: suky_2508
:: susilo.wardono
:: syakib
:: S~Thß33
:: takin
:: Taqiyuddin
:: tatang
:: tauzirifam_6
:: The4Hkg
:: tovick_firdaus
:: TR
:: tyaz_gradien
:: udo
:: ukhtiana
:: usel
:: uwiet_zuka
:: Uzam
:: v3
:: vadly_gokilaz
:: verdinna
:: vikerz_phc
:: wahyoedie
:: wibazar
:: wildan fadilah
:: Wisnu Hafi Hanif
:: xeLL_f.f.
:: xxxxx
:: yasir
:: YUSUF
:: zaenal
:: Zakaria
:: zaki
:: zals_hackz
:: zeiart
:: zezen
:: zezen.97
:: zyech